OGANILIR, kabarrthreenka.com– Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir bergerak cepat menindaklanjuti kasus dugaan keracunan makanan yang dialami belasan santri Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya.
Kepala Dinas Kesehatan Ogan Ilir, Suryadi, didampingi Koordinator Kesehatan Lingkungan Ade Lusiana, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah investigasi untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Diketahui penyedia makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk Ponpes Al-Ittifaqiah adalah SPPG Lubuksakti II.
Setelah menerima laporan adanya santri yang mengalami gejala mual dan muntah, Dinkes Ogan Ilir langsung berkoordinasi dengan Polres Ogan Ilir dan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan pengecekan langsung ke dapur penyedia makanan.
“Kami telah turun ke lapangan bersama Polres dan BPOM untuk melakukan inspeksi menyeluruh,” ujarnya kepada wartawan. Rabu, 11 Februari 2026. Selain melakukan pengecekan kondisi dapur, tim gabungan juga mengambil sampel makanan yang masih tersisa.
Sesuai ketentuan dalam pelaksanaan program MBG, pihak penyedia wajib menyimpan sampel makanan selama 2×24 jam. Sampel tersebut kini telah diamankan untuk keperluan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.
“Pemeriksaan akan dilakukan oleh BLKM (Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat) dan BPOM di Palembang agar hasilnya lebih akurat,” tambah Suryadi.
Adapun sampel yang diambil meliputi bahan makanan, air yang digunakan untuk memasak, serta sempel muntahan korban. Seluruh sampel tersebut telah dikirim ke laboratorium untuk diteliti. Hingga saat ini, pihak Dinkes Ogan Ilir masih menunggu hasil resmi dari pemeriksaan tersebut. Kami berharap hasilnya bisa segera keluar agar penyebab pasti bisa diketahui,” katanya
Terkait operasional dapur SPPG Lubuksakti II, Suryadi menyebut bahwa berdasarkan informasi terakhir kegiatan dapur tersebut telah dihentikan sementara. Namun ia menegaskan bahwa keputusan penghentian operasional bukan berada di kewenangan Dinas Kesehatan, melainkan menjadi wewenang Badan Gizi Nasional (BGN).
“Pihak pengelola sudah berkoordinasi dengan BGN pusat mengenai langkah selanjutnya,” jelasnya. Kasus serupa ternyata bukan pertama kali terjadi di wilayah Ogan Ilir, insiden serupa juga pernah terjadi pada September 2025 lalu di Desa Ramakasih, Kecamatan Muara Kuang.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting agar standar operasional prosedur benar-benar diterapkan secara ketat oleh seluruh penyedia layanan MBG. Pihak Dinas Kesehatan berharap agar kejadian ini menjadi evaluasi bersama.
Suryadi menekankan pentingnya kepatuhan terhadap SOP mulai dari pasokan bahan baku, penyimpanan, proses memasak, hingga distribusi makanan. “Harapan kami agar semua pihak benar-benar mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.






