OGAN ILIR, kabarrthreenka.com- Dinas Kesehatan Ogan Ilir optimis terkait hasil penurunan kasus demam berdarah di tahun 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Ogan Ilir, dr Suryadi menuturkan, pihaknya lebih menekankan pada pencegahan dengan cara sosialisasi yang masif ketimbang pengobatan intensif.

“Jadi pengawasan DBD sifatnya sosialisasi kita lakukan dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Program ini kami mulai saat awal musim penghujan di bulan November 2025 lalu,” ujarnya, kemarin.

Program PSN dengan mendatangi pemukiman warga, membagikan dan menebarkan bubuk abate di tempat yang berpotensi jadi sarang nyamuk DBD. Jadi di lakukan gerakan ini serentak di 241 desa di Ogan Ilir.

“Pembagian bubuk abate disebar melalui puskesmas di masing-masing wilayah. Petugas puskesmas inilah yang melakukan sosialisasi dan mendatangi ke seluruh desa,” terangnya.

Menurutnya, cara mencegah DBD paling efektif dengan program 3M Plus. Yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan memanfaatkan/mendaur ulang barang bekas (3M). Ditambah tindakan pencegahan lain (Plus) seperti menaburkan bubuk larvasida atau abate, memakai kelambu, dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian.

Sedangkan untuk daerah rawan DBD di Ogan Ilir menurut data berasal dari tempat pemukiman padat penduduk. Di antaranya seperti, Tanjung Batu, Sritanjung, Payaraman, Sungai Pinang, Tebing Kerinting.

“Karena pemukiman dan lingkungan yang padat, biasanya terkendala permasalahan sampah. Sehingga jadi sebab perkembangan nyamuk. Maka dari itu, perlu kesadaran dan prilaku peduli kebersihan memberantas tempat yang bakal jadi sarang nyamuk DBD,” ungkapnya.

Berdasarkan data, per Januari 2026 kasus DBD di Ogan Ilir tercatat hingga 23 kasus. Sedangkan di tahun 2025 sebanyak 216 kasus. Jumlah ini terus berkurang dibanding kasus DBD di tahun 2024 yang mencapai 369 kasus. (*)

By admin